Apa itu Kundalini

kundalini1.gif

ALIRAN TENAGA HAYAT – KUNDALINI

Kundalini merupakan potensi kerohanian yang terpendam, terletak dalam kedudukan seperti lingkaran ular pada dasar tulang belakang. Ia bergulung naik seperti ular dan memasuki sistem chakra melalui chakra dasar.

Tujuannya adalah untuk membangkitkan kesedaran ; proses menaiki melalui chakra-chakra hingga ke chakra mahkota dan penyambungan di antaranya disebut kebangkitan Kundalini.

Bagi kebanyakkan orang, aliran Kundalini hanyalah aliran yang perlahan dan kecil tetapi apabila telah bangkit akan meningkatan kesedaran, ia bangkit sebagai satu arus yang besar dan kuat dan mengaktifkan chakra-chakra. Pengaktifan ini mengakibatkan chakra lebih berkembang dan frekuensinya menjadi lebih cepat. Dalam arti kata lain, Kundalini membekalkan chakra-chakra dengan getaran yang diperlukan oleh manusia sewaktu berlakunya evolusi dalam usaha mendapatkan kepelbagaian tenaga dan keupayaan material, dan untuk diintegrasikan dalam kehidupan seharian.

Lebih banyak kesedaran yang dilalui oleh seseorang, lebih terbuka dan lebih aktif chakra-chakranya, dan lebih banyak Kundalini boleh memasukinya sebagai aliran arus besar dan kuat, lebih banyak baik, chakra-chakra akan lebih terlaras (in tune), yang mana membawa kepada kesedaran yang lebih dalam lagi. Dengan cara ini, kita mula mengikis dan menghilangkan halangan dan sekatan yang ada pada chakra-chakra dan seterusnya meniti laluan menuju kebangkitan kesedaran yang tinggi.

Kundalini juga umpama penghubung komunikasi antara semua 7 chakra utama. Saling membantu, menyokong, menolong antara setiap chakra dalam mengekalkan potensi chakra-chakra dalam menentukan tahap tenaga yang berkait rapat dengan kesehatan fisik, mental, emosi dan kerohanian seseorang. Peningkatan kecerdasan energi pada jaluran tenaga kundalini akan mempengaruhi kesan kesemua chakra yang seterusnya mempengaruhi tahap kesihatan fisik, mental, emosi dan spiritual seseorang.

Keaktifan aliran turun-naik inilah yang meningkatkan kesedaran spiritual, emosi, mental dan fisik seseorang. Kehebatan seseorang itu sebenarnya bergantung kepada keaktifan dan pembukaan chakra-chakranya serta kecerdasan aliran arus kundalininya. Kesempurnaan pengaliran kundalini bukan saja dapat membangkitkan tenaga seseorang, malah ia juga dapat memecah tenaga-tenaga yang terbeku atau tersumbat (‘chakra blockages’). Energy negatif yang membeku sering menghambat jalan kehidupan dan nasib seseorang. Kundalini akan mampu memecah energy negatif hingga berbentuk cristal-cristal atau melekul-melekul kecil dan keluar melalui keringat, kencing atau kotoran. Jika energy negatif ada pada pikiran atau memory otak, akan keluar melalui mimpi dan fresh kembali memori otak sehingga merasakan nyaman. Energy negatif sangat mudah melekat pada memory otak, atau di sumsum tulang karena perbuatan manusia itu sendiri. Ketika energy negatif menumpuk akan menutup energy positip dan cendrung akan menimbulkan efek kurang baik dalam tubuh, pikiran dan perbuatan manusia itu sendiri.

Kebangkitan kundalini dapat dilakukan dengan latihan pernafasan, yoga dan meditasi dari bimbingan guru yang dikendalikan dengan kesungguhan dan sempurna. Tentunya dengan bantuan seorang ’master’, seseorang dapat melakukan ini dengan mudah dan berkesan setelah memahami teori dan kaedahnya. Rasa kehangatan dan sensasi panas dapat dirasai sepanjang bahagian tulang belakang tubuh apabila melakukan latihan kebangkitan kundalini. Tubuh akan merasa Relax dan bertenaga disamping daya ketajaman tubuh semakin tajam. Gerak rasa dan hati seseorang juga bakal meningkat hasil dari kebangkitan kundalini

Energy negatif mudah didapat dan sukar sekali hilang, sebaliknya energy positif sukar didapat dan mudah hilang. Orang-orang penekun spiritual mengatakan…” hanya butuh belajar semalam bisa menjadi leak (setan) tapi  belajar puluhan tahun untuk menjadi dewa….”

[Suber: dari berbagia litelatur]

Sekilas tentang Leak

 
[Toton videonya ]
Leak, sebuah fenomena mistis di Bali. Sepanjang waktu selalu menjadi pergunjingan. Bahkan tak jarang saling tuduh kerap terjadi. Si anu bisa nge-leak, I dadong (nenek) anu sakti dan sebagainya. Tanpa sadar, dengan berlaku seperti itu sebenarnya mereka sedang dan telah melakukan pengleakan.

ASAL USUL DAN FILOSHOPI LEAK

Asal usul ilmu pengeleakan bisa dirujuk dalam sebuah ritual bathin yang disebut tapa. Tapa identik dengan api, kekuatan. Apakah kekuatan itu untuk membakar ego guna perolehan keinsyafan diri atau sebaliknya untuk mengumbar ego membakar subyek yang amat dibenci. Sekali lagi, tapa adalah api atau energi berhawa panas. Mereka yang menyimpan (mengekang) nafsu atau emosi negatifnya sedemikian rupa, apabila “diledakkan” dengan cara tertentu dapat menimbulkan api tapas , meski dalam alur yang menyimpang.

Bertolak dari prinsip ini, Calon Arang (Randa Dirah) tokoh sentral dalam jagat perleakan di Bali diyakini telah melakukan praktek “tapa kebencian” dan menyalurkan hasil tapanya itu secara ghaib menjadi apa yang disebut LEAK. Kemampuan Calon Arang mengekang kebencian dan dendamnya (tapa) melahirkan api (energi panas). Inilah sebabnya Ilmu Leak versi Calon Arang dasar perwujudannya tampak sebagai api (ngendih). Dan tentu saja, api leak semacam itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap mereka yang juga memiliki api sejenis dari tipe dan kualitas yang lebih baik yakni api spiritual. Sebab itu, Mpu Bharadah, Mpu Bahula atau Raja Airlangga (Mpu Jatayu) yang mewakili kekuatan “api spiritual” tidak mempan oleh serangan kebencian yang terpancar dari api tapas Rondo Dirah. Ini pulalah makna keputusan Bhatari Durga yang mengijinkan Walu Nateng Dirah menebar kekuatan pedestian-nya hanya berlaku untuk masyarakat “pinggiran” saja, tidak dapat memasuki “ibukota kerajaan” yang dipimpin Airlangga. Pinggiran disini maksudnya adalah mereka yang berpandangan “keluar” (duniawi) melekat kepada kesenangan material; cinta akan tahta, keserakahan dan sejenisnya. Sedangkan ibukota kerajaan menyimbolkan mereka yang berpandangan “kedalam”, yakni para penekun jalan keinsyafan diri atau para penapak jalan spiritual dan kesucian Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun juga, api tapa spiritual jauh lebih cemerlang dari api tapa kebencian. Dewi Durga (Bhairavi) adalah manifestasi illahi yang merupakan sumber kedua jenis api tapa itu. Salah seorang penekun spiritual yang tidak ingin disebut namanya mengatakan.

“….Semasih ada rasa tertindas yang melahirkan kebencian dan dendam, semasih ada nafsu birahi yang menggebu dan menuntut pemuasan dan semasih ada kemarahan terpendam yang menuntut pembalasan, jika semua itu cukup untuk melahirkan penghancuran, maka apa yang disebut LEAK pasti tetap eksis…”

Dalam dunia modern sekarang ini, Dalam cerita Calon Arang hanyalah subyek pencetus dan simbolisme yang mewakili rasa ketidak puasan yang super lengkap semacam itu. Ia adalah Ratu Permaisuri yang sedang berkuasa tapi ia dibuang seperti sampah hingga terlunta ke tepi pengasingan. Ia harus puas sebagai mantan ratu menerima predikat janda (rondo) yang memalukan. Anak satu satunya,yang seharusnya menjadi ahli waris tahta kerajaan adalah seorang wanita bernama Ratna Mengali, pun ikut dicampakkan. Masyarakat kala itu menghukumnya dengan tidak menunjukkan rasa emphati kepada mereka. Disaat usia Ratna Mengali sudah cukup untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang layak, tak seorangpun pria mau mendekatinya apalagi melamarnya. Bisa dibayangkan seorang Ibu yang sedang sebatang kara yang menyayangi anak tunggalnya menerima perlakuan semacam itu, terlebih ia mantan permaisuri Raja Dirah. Siang malam ia memendam api kebenciannya kepada semua orang. Itulah tapa hebat yang dilakukan Rondo Dirah.

Maka ia sampai ke Durgaloka yakni Pura Dalem ( inner power, konsentrasi api energi dalam tubuh) dan melupakan segalanya. Tujuannya hanya satu; balas dendam melampiaskan kebencian yang tak terbendung lagi. Kebencian yang mendalam dari Calon Arang ini juga layak disebut tapa dan karena itu, Dewi Durga yakni api kesadaran bathin yang dahsyat (cid-aghni, api tapas) berkenan memberikan anugerah-Nya. Karena api itu lahir dari motif kebencian, tidak ayal lagi kualitas api yang diterimanya agak rusak (ugig) dan akhirnya, terbukti memang merusak. Api semacam itu (ditambah sedikit “bumbu” dari ajaran tantrik) merupakan bahan baku (raw material) proses menebar petaka dalam kehidupan yang disebut desti, teluh dan teranjana. Teknik pengolahan api tapa “jalur kiri” seperti versi Rondo Dirah itu banyak dibahas dalam ajaran tantra wamamarga. Salah satu contohnya adalah pewisik yang diterima Calon Arang agar berhasil merubah wujud (malin rupa) seperti berikut :

Iki tingkahe mangda dadi binarupa,katon dening wong sabumi; iki pradatanya,away hima hima ring payogan.Sane metu ring sarira gnahnya mider bwana,lwirnya :
Papusuwan ngaran purwa,ika dadi lembu Peparu dadi singa,kelod kangin
Atine dadi barong,kelod unggwanya
Usus agung dadi warak,kelod kawuh unggwanya
Ungsilane dadi nagha pasa,kawuh unggwanya
Amprune dadi raksasa,kaja unggwanya
Jajaringane dadi garuda kaja kangin unggwanya
Tumpukan papuswane dadi kala mretyu,ring madya unggwanya

Yang artinya : (Edit)

Sayangnya, sebagian orang selalu “memojokkan” Randa Dirah sebagai biang kerok Aji Ugig (leak), sementara banyak orang tanpa sadar juga sedang melakukan praktek tapa sejenis seperti yang dilakukan Randa Dirah. Dijaman Kali ini banyak orang mengaku takut terhadap leak meskipun dia sesungguhnya adalah juga pengikut Calon Arang.. Mereka “diam diam” pergi ke pura atau tempat tempat keramat,petilasan,makam “mbah sakti” dan sebagainya, bukan untuk menyembah Hyang (memuja,memuliakan dan bersyukur kehadapan Hyang Widhi) melainkan untuk mendoakan (baca; meminta) agar jabatannya langgeng (baca; orang lain tidak perlu naik pangkat),agar usahanya laris dan maju (baca; agar orang yang melakukan usaha sejenis bangkrut). Jika hal hal semacam itu mereka pikirkan terus menerus sampai tidak bisa tidur,tak ayal lagi mereka adalah pengikut setia Calon Arang alias “leak leak berdasi” (baca : leak matah). Jadi kenapa harus takut dan memojokkan Randa Dirah dan leaknya? Pertanyaannya?

APAKAH LEAK TETAP EKSIS..?

Diatas telah saya simpulkan bahwa semasih ada kebencian dan dendam yang perlu dilampiaskan,semasih ada nafsu birahi yang menuntut pemuasan dan semasih ada kemarahan terpendam yang menuntut pembalasan, jika semua itu cukup untuk melahirkan penghancuran,maka apa yang disebut LEAK pasti tetap eksis. Memang dalam sebuah babad misalnya pernah terungkap sebuah Ajian yang dianugerahkan oleh Ida Peranda Sakti Wau Rawuh kepada sisya sisyanya (Murid/pengikutnya) terbukti sangat ampuh dan berhasil mengalahkan ilmu pengeleakan yang merajalela pada masa itu.Ajian pemunah Ilmu Pengelakan itu popular disebut Gni (Agni) Wairocana.Hanya sekejap saja setelah mantra ajian tersebut dirapal,balatentara pengeleakan berikut panglimanya musnah terbakar hancur lebur menjadi abu.Ajian macam apa sesungguhnya Agni Wairocana itu?

RAHASYA AJIAN AGNI WAIROCANA

Vajra Vairochani (ya) adalah nama lain dari Indrani (Shakti Dewa Indra) yang mengambil bentuk sebagai “tubuh” dari senjata Vajra (Halilintar) milik Dewa Indra. Vajra adalah halilintar; yakni api (agni) kosmik yang sangat dahsyat.Siapapun yang terkena pukulan Vajra ini akan dilumpukan egonya sehingga mengalami “pencerahan seketika”. Sama halnya dengan pengalaman yang menimpa Shri Hanuman,ideal dasyabhakti dalam epos Ramayana. Karena prilaku egoistik (ugig) semasa kecilnya, Putra Vayu yang gagah perkasa itu mendapat hukuman dari Dewa Indra,Penguasa Kahyangan.

Indra melepaskan senjata vajra yang dahsyat itu dan mengenai dagu Hanuman .Hanuman kemudian jatuh dan pingsan (egonya dilumpuhkan). Setelah Hanuman siuman,ia mendapati dirinya telah “tercerahi”(mencapai keinsyafan diri). Untuk sampai kepada hakekat pencerahan itu, banyak usaha yang telah dilakukan Sang Hanuman. Hanuman pada masa itu sedang berguru di Suryaloka. Ini menunjukkan bahwa Ia seorang bhakta yang mendambakan penerangan jiwa (Surya=Pencerahan). Setelah menimba pelajaran di Surya Loka,dengan kekuatan yang diperolehnya Ia sempat menghancurkan kereta perang Dewa Indra.

Ini menunjukkan bahwa Hanuman telah menundukkan “ kereta” yakni badan/tubuh tempat nafsu inderawi melampiaskan hasratnya. Bahkan Hanuman melumpuhkan Gajah Airavata,wahana utama Dewa Indra. Gajah adalah simbol buddhi (asas kebijaksanaan). Lagi lagi peristiwa ini menunjukkan bahwa Hanuman telah menguasai intelegensia, pusat segala pertimbangan untuk membedakan kebaikan dan keburukan (wiweka=buddhiyoga). Setelah penundukan kereta badan dan menguasai wiweka, Hanuman kemudian “menerima” pukulan Vajra Vairochana, the personification of instantaneous enlightment (perwujudan pencerahan seketika). Senjata ini cukup populer di Bali sebagai nama “ilmu” yakni Aghni Wairochana untuk mengalahkan leak sebagaimana tertulis dalam Babad Pasek.

Bertolak dari uraian diatas, sangatlah logis kalau ilmu Agni atau Vajra Wairocana itu dikatakan sangat ampuh untuk memunahkan Leak. Karena Agni Wairocana adalah senjata kesadaran jiwa untuk melumpuhkan ego (pikiran) yang sedang dipenuhi kabut kegelapan hawa nafsu (kebencian,dendam,kemarahan,kesombongan,dsb). Energi yang dipancarkan oleh pikiran yang gelap adalah emosi negatif atau hawa panas yang dapat menghancurkan kehidupan. Hawa panas yang desruktif ini adalah cikal bakal aji pengleakan.Maka jika kabut kegelapan pikiran dan api hawa nafsu itu dilumpuhkan, tak ayal cikal bakal pengleakanpun sirna dari kehidupan manusia.Agni Wairocana adalah ajian penerang jiwa,cahaya kesadaran jiwa yang terbit dari penapakan jalan spiritual keinsyafan diri. Senjata ini hanya dikuasai oleh pribadi pribadi mulia sekaliber Danghyang Nirartha,Mpu Bharadah,Mpu Jiwaya,Mpu Bahula dan segelintir orang suci lainnya. Bagi mereka,kekuatan leak tidak kuasa menyentuhnya. Bagaimana dengan Anda?

[Sumber: Biodata pembuat artikel ada pada web administrator]

Program Kami

kadek08.jpg

Bagi para pembaca, siapa saja dan dari agama apa pun, kami Sanggar Spiritual “Surya Chandra” yang beralamat di Jl. raya Buruan, Penebel, Tabanan-Bali melayani pengobatan alternatif (medis dan non medis) dan konsultasi spiritual.

Silahkan konsultasikan permasalahan Bapak/Ibu/Saudara/-i dengan Pimpinan Sanggar kami, bapak I Made Artha Jaya, Layanan pengobatan alternatif medis kami antara lain: stroke, asma, liver, ginjal, asam urat, tumor, leukimia, diabetes, rhematik, hernia, hypertensi, stips (kejang-kejang), maag menahun, TBC, penyempitan syaraf, spilis, brahma, sawan, alergi, lumpuh, dan hepatitis.

Sedangkan layanan pengobatan non medis kami antara lain: terkena santet, teluh, guna-guna, gangguan mahluk halus, memisahkan perjanjian dengan jin, terkena sengkolo, terkena pelet, dan hilang ingatan atau stress.


Kami juga melayani konsultasi spiritual, antara lain: pengusiran/pemindahan mahluk halus, ruwatan, penglarisan usaha, pengasihan diri agar tetap banyak rejeki (hoky) dan disenangi relasi atau pasangan, menetralisir energi negatif, permasalahan rumah tangga, kekebalan, penjagaan gaib, penarikan benda pusaka, terapi kejantanan, ingin punya keturunan, hutang yang belum terbayar atau sulit ditagih, menjual barang (tanah, rumah, dan kendaraan), melihat mahluk atau hal gaib, dan komunikasi dengan sanak famili yang telah meninggal melalui raga orang hidup (asal nama orang tua laki-laki diketahui).

Sebelumnya kami mohon maaf jika proses pengobatan atau kerja kami tidak berlangsung dalam sekejap, tetapi perlu beberapa hari tergantung tingkat parahnya penyakit atau kesulitan permasalahan. Dengan izin dan kuasa Tuhan YME, kami siap membantu memecahkan segala permasalahan Anda, tidak masalah Anda berada di dalam kota, luar kota dan bahkan di luar negeri. Banyak terima kasih kami haturkan atas kepercayaan Anda berkonsultasi dengan kami.

Semoga ada manfaatnya.

Lingga Yoni

kadek11.jpg

[Lingga Yoni]

Arti Lingga Yoni

Inilah lingga yoni sebagai simbul dari kesejahtraan dalam spiritual disebutkan Lingga Yoni mampu memberikan kesejahtraan umat manusia dalam kesucian yang artinya sejahtra dan kaya akan spiritual Lingga Yoni inilah yang ada di sanggar Surya Chandra, Desa Buruan, Penebel Tabanan, Bali

Berbagai Cerita tentang Lingga Yoni

Salah satu peninggalan tersebut adalah Lingga Yoni yang hingga saat ini masih dikeramatkan keberadaannya. Kata Lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tanda padanan phallus atau kelamin laki-laki”. Di dalam buku Iconographic dictionary of the India religion Hinduism – Buddhism – Jainism diuraikan bahwa Lingga (linggam) antara lain berarti simbol atau lambang jenis kelamin laki-laki. Di India Selatan dan Tengah pemujaan terhadap Lingga sangat populer keberadaannya. Malah ada satu sekte khusus di sana yang memuja Lingga. Mereka menamakan dirinya sekte Linggayat. Ciri-ciri khusus dari para penganut sekte ini adalah mereka memakai kalung dengan hiasan beberapa buah Lingga. Sama seperti halnya dengan orang-orang Nasrani yang memakai kalung dengan tanda salibnya.

Lingga menurut paham Hindu disebut sebagai lambang kesuburan yang diperlihatkan oleh peradaban manusia di lembah Indus. Kepercayaan ini sempat dilarang oleh bangsa Indo Arya, tetapi tidak lama timbul kembali dan mulai dihubungkan dengan Dewa Siwa. Lingga kemudian dapat juga berarti sebagai perwujudan Dewa Siwa dalam bentuk sebuah phallus.
Biasanya Lingga di tempatkan di atas sebuah vulva (yoni). Yoni di sini berarti simbol alat kelamin wanita, sebagai simbol dari unsur wanita. Yoni dalam bentuk cincin batu banyak ditemukan pada peradaban di lembah Indus. Yoni juga dipuja oleh sebuah sekte yang bernama sekte Sakta. Yoni dianggap sebagai unsur sakti dan seringkali disatukan di dalam susunan Lingga. Lingga tidak saja banyak ditemukan di India. Tetapi banyak juga terdapat di daerah Khmer (Myanmar, Kamboja, Vietnam). Raja di sana pada waktu itu yang bernama Mahendrawarman sempat meninggalkan beberapa prasasti yang isinya untuk memperingati pendirian beberapa Lingga dengan beberapa sebutan (di antaranya adalah Sambhu, Triyambhaka dan Tibhuwanecwara). Dalam berbagai prasasti tersebut ada beberapa petunjuk, bahwa mendirikan Lingga erat kaitannya dengan telah ditaklukkannya suatu daerah tertentu.

Sedangkan di Indonesia, Lingga tertua yang pernah diketahui berasal dari prasasti Canggal, yang berasal dari halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Sleman. Dari prasasti yang ditulis tahun 732 M tersebut diketahui bahwa Raja Sanjaya yang beragama Siwa telah mendirikan sebuah Lingga di atas bukit, dan dimungkinkan bangunan Lingga tersebut ialah candi yang hingga masih ada sisa-sisanya di atas gunung Wukir.

Di Bali sendiri, keberadaan Lingga Yoni sangat banyak ditemukan. Ini memberikan petunjuk bahwa pada masa lampau di Bali pernah ada sebuah sekte bernama Pasupati sebagai salah satu aliran dalam agama Hindu.
Lingga Yoni yang ditemukan di Pura Puseh Babahan, Bali ada tiga jenis bentuknya. Yaitu dua Lingga dalam satu lapik yang kadang disebut Lingga yang mandiri dan sebuah Lingga Yoni.

Lingga Yoni juga dipercaya sebagai sumber dari kesuburan. Penganut kepercayaan tersebut kadang menyiramkan air pada Lingga dan kemudian air yang mengalir melalui yoni ditampung dan selanjutnya disiramkan pada tanaman padi atau tanaman lainnya.

Di samping hal tersebut, penemuan Lingga Yoni tersebut menunjukkan bahwa di desa Babahan, Penebel merupakan sebuah desa kuno. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa situs kuno tersebut merupakan peninggalan arkeologis dari masa prasejarah (masa perundagian) dan masih berlanjut hingga masa klasik dan bahkan masih berlangsung hingga sekarang

[Reporter: gede suryawan]

Belajar Bersama Made Arthajaya

kadek-004.jpg

[ Murid-Murid belajar bersama]

Secara rutin Bapak Made Artha Jaja mengajarkan kundalini bersama murid-muridnya di sanggar Spiritual Surya Charda desa Buruan, Penebel-Tabanan. Ratusan murid-murid dengan tekun mempelajari spiritual kundalini.